Harmony Clean Flat Responsive WordPress Blog Theme

kangen blog..

12.29 Dini Khoirinnisa A 2 Comments Category : ,

Bismillahirrahmanirrahim..
fuuh..
udah lamaaa bgt nih ga nulis di blog..
mohon maaf ya kalo ada yg mampir tapi ga ada update apa2..hheehe
umm..
ini memang blog saya dan achie, tapi di tulisan2 terakhir memang lebih banyak tulisan saya, (mungkin achie lupa passwordnya, karena passwordnya 'dini' bgt..hhe)
mungkin juga chie sibuk di FE ya.. karena lagi nyiapin “KompEk 2009” juga.. hho..
saya sendiri, masih menjalani kegiatan perkuliahan di sosio yang... yaah.. sebenarnya padet juga jadwalnya karena sekarang lagi nyusun penelitian, tapi banyak juga koq teman2 saya yang bisa santai2.. hehe
btw..
ketika pertama kali menjalani aktivitas di sosiologi (baca: FISIP) saya mengalami sedikit culture shock karena 'budaya' nya yang emang beda jauuuh bgt sama smansa (ya iyalaah)..
waktu tu sempet juga ngerasa down.. ngerasa gak tau mesti temenan sm syapa (padahal di sosio udah ada 5 anak smansa, hhe) ngerasa bingung pengen ikut organisasi apa, dan terutama jad kangeeen bgt sm smansa dan 'isinya'..
kadang suka ngerasa sebel karena di smansa tuh 'save' bgt, jadi kayak ngerasa ga siap pas ngadepin 'dunia sebenarnya'..
tapi ya.. jelas bersyukur lah pernah ngerasain indahnya smansa.. hhe
udah deh ttg smansanya,, malah jd tambah kangen kalo di omongin.. hehe
oya..pengen ngasih tau aja nih ttg alasan saya bangkit kembali untuk ngisi blog..
alasan pertama adalah karena ucapan salah satu dosen saya yaitu Mas Andi, yang berharap banget semua anak sosio bisa meluangkan waktunya untuk menulis.. menulis apa saja kalau kata beliau, mulai dari yang ilmiah sampai yg sangat tidak ilmiah.. hhe.. karena kecakapan dalam hal menulis akan jadi modal yang penting bgt buat seorang calon Sosiolog.. hhee.. amiin.. kalaupun ga mau jd sosiolog ya gapapa, tapi kalo udah belajar sosiologi emang dituntut untuk punya sedikit banyak kemahiran dalam menyampaikan ide secara tulisan (juga lisan).
Alasan kedua adalah karena teman saya ada yang baru bikin blog,, jadi saya terpacu lagi bwt update,, hehe..
teman saya itu adalah rahardian alias dimen yang kayaknya juga terpacu bikin blog karena perkataan Mas Andi.. hehe..
sekian aja kali yah..
btw, dibawah ini saya 'ngelampirin' 2 tulisan saya yg tadinya adalah tugas kuliah.
Yg satu saya muat dalam tulisan kali ini karena ada hub.nya sm smansa.. hehe.. waktu tu ada tugas ospek dadakan yang minta kita nulis refleksi sosiologis ttg lingkungan di sekitar kita.. entah kenapa di kepala saya waktu itu yang terpikirkan cuma smansa, ya emang smansa pernah jadi sebuah lingkungan dimana saya 'tinggal' kan.. hehe
yg kedua adalah sedikit cuplikan tentang analisa hasil penelitian kecil saya bersama dua orang teman, harapan saya, semoga bermanfaat dan saling menyadarkan aja sih..
oya, kalo ada tanggapan, kritik, masukan, sanggahan, dll, silahkan komen,, =)
REFLEKSI SOSIOLOGIS MENGENAI KEHIDUPAN SOSIAL DI SMA Negeri 1 DEPOK
Sekolah merupakan salah satu agen sosialisasi (agents of socialization) utama dalam masyarakat yang melaksanakan proses sosialisasi bagi anak-anak usia sekolah. Di sini, seseorang mempelajari hal baru yang belum dipelajarinya dalam keluarga ataupun kelompok bermain. Pendidikan juga mempersiapkan seseorang untuk menguasai peran-peran baru yang akan ia sandang di kemudian hari.
Menurut Robert Dreben (1968), yang dipelajari seseorang di sekolah disamping membaca, menulis, dan berhitung adalah aturan mengenai kemandirian (independence), prestasi (achievement), universalisme (universalism) dan spesifitas (specificity).
Di SMA Negeri 1 Depok, saya merasa telah mendapatkan keempat hal seperti yang dicetuskan oleh Robert Dreben tersebut. Karena disana, saya dan seluruh siswa SMA Negeri 1 Depok tidak hanya diajarkan tentang pelajaran yang telah dirumuskan dalam kurikulum sekolah, tetapi juga pelajaran-pelajaran kehidupan yang bisa disampaikan oleh guru, kepala sekolah, pegawai dan alumni.
Kemandirian kami dapatkan di dalam dan luar kelas. Di dalam kelas, adalah saat proses belajar-mengajar, di luar kelas adalah saat kami mengikuti kegiatan ekstarakulikuler dan organisasi yang cukup banyak dan beragam di sekolah kami. Saat di luar kelas itulah, kemadirian kami lebih terasah karena kami dituntut untuk mengurus segala kegiatan dalam ekstrakurikuler dan organisasi tersebut secara mandiri karena pihak sekolah hanya menjadi pembimbing dan pengawas. Di sanalah kedewasaan kami tumbuh dan disana pula kami dituntut untuk dapat berinteraksi dengan baik dengan pihak dalam dan luar sekolah yang sering kami libatkan dalam kegiatan-kegiatan yang kami laksanakan. Pelajaran lain adalah ketika kami harus bisa menyelesaikan disorganisasi yang tidak jarang sering terjadi dalam organisasi dan ekstrakulikuler.
Selanjutnya mengenai prestasi di SMA Negeri 1 Depok. Menurut saya, sekolah saya adalah salah satu sekolah yang cukup sering mengirimkan perwakilannya dalam bermacam-macam lomba. Baik lomba akademis maupun non-akademis, dan sering kali menghasilkan prestasi yang cukup membanggakan. Semangat untuk berprestasi nampaknya sudah ada sejak dulu. Hal ini tentu saja sangat baik dalam rangka menumbuhkan rasa optimis dalam pribadi seseorang agar selalu terpacu untuk terus belajar dan berprestasi.
Hal ketiga, mengenai universalisme. Yaitu, saat dimana seseorang diperlakukan secara sama. Hal ini juga yang membuat saya merasa bahwa sekolah saya telah menjadi sebuah agen sosialisasi yang baik, karena dapat dirasakan perlakuan yanga adil bagi seluruh siswa/i nya. Luar biasanya lagi, sikap ini juga telah menurun kepada siswa/i nya. Di mana, seseorang bisa menempatkan orang lain secara universal atau tidak membeda-bedakan teman. Begitu juga, dengan cara kami menempatkan diri kami sendiri, karena kami dapat memposisikan kami secara universal, sesuai dengan status kami sebagai pelajar. Yang pintar mau berbagi dengan orang yang masih harus belajar, yang biasa makan di restoran mewah tanpa canggung makan satu bungkus nasi bersama orang yang biasa makan di warteg. Sehingga tidak terlihat jurang pemisah diantara perbedaan yang sudah pasti kami miliki masing-masing.
Hal terakhir adalah spesifitas. Spesifitas yang dimaksud dalam dunia pendidikan formal termasuk di SMA Negeri 1 Depok adalah spesifikasi atau kejelasan mengenai penilaian terhadap kelakuan siswa/i nya. Penilaian yang kurang baik terhadap satu mata pelajaran tidak akan mempengaruhi nilai untuk mata pelajaran lain. Selain itu, dalam menilai seorang siswa, guru tidak hanya melihat dari sisi kecerdasan siswa tetapi juga dari sikap siswa, dan tentu saja sang guru akan dapat menilai muridnya dengan baik jika ia dapat berinteraksi dengan baik dengan murid-muridnya.
Kesimpulan yang ingin saya sampaikan pada tulisan ini ialah, bahwa kemandirian, prestasi, universalisme dan spesifikasi yang ada di lingkungan yang pernah saya rasakan yaitu SMA Negeri 1 Depok, tidak akan tercipta apabila tidak ada interaksi yang baik dari seluruh warga sekolahnya. Hal ini juga tidak terlepas dari masa orientasi sekolah yang dilaksanakan di awal tahun ajaran baru, di mana siswa/i baru telah diperkenalkan dengan nilai-nilai dan norma yang ada di sekolah ini. Jadi, dapat juga disimpulkan bahwa penanaman nilai dan norma sejak dini itu penting, agar dapat tercipta sebuah social order sesuai dengan apa yang diharapkan oleh agen sosialisasi tersebut.
Tulisan ini dibuat dengan buku rujukan: “Pengantar Sosiologi”
Karya: Prof. Dr. Kamanto Sunarto
Halaman: 24-26
Analisa Hasil Penelitian
Dengan melihat data-data dari hasil penelitian kami, kami menemukan suatu fenomena bahwa media massa saat ini mempunyai tempat yang amat luas dalam fokus kehidupan masyarakat, terutama dalam hal ini adalah anak-anak. Anak-anak usia 6-10 tahun yang menjadi sasaran penelitian kami, menyadarkan kami bahwa media massa telah masuk dalam kehidupan mereka dan menjadi sebuah agen sosialisasi yang penting dan mempengaruhi mereka. Padahal seperti yang kita ketahui, anak-anak dalam usia tersebut masih berada dalam tahap sosialisasi primer, dimana seharusnya keluarga masih menjadi agen utama dalam proses sosialisasi.
Sesuatu yang menjadi masalah atau kekhawatiran saat ini adalah, pengaruh atau dampak negatif yang dihasilkan dari media massa tersebut. Karena seperti yang kita ketahui, tidak semua informasi yang ada dalam media massa baik untuk kita terima. Sedangkan anak-anak, dapat diibaratkan sebagai kertas putih yang masih polos yang masih dapat ditulisi apa saja, karena anak-anak belum dapat menyaring informasi-informasi yang mereka dapatkan, kecuali jika ada bimbingan dari orang terdekat mereka, seperti keluarga misalnya.
Salah satu fenomena penting dan mencolok yang dapat kita lihat dari tabel hasil penelitian di atas adalah bahwa, semua anak yang menjadi sampel penelitian kami, sudah tidak lagi menjadikan lagu anak-anak: lagu yang sesuai dengan usia mereka, sebagai lagu favorit mereka. Dapat dipastikan bahwa saat ini, kecenderungan seorang anak terhadap lagu yang ia sukai untuk didengarkan adalah lagu-lagu pop yang dinyanyikan oleh band/penyanyi yang sedang terkenal saat ini, dimana band/penyanyi tersebut mempunyai gaya penampilan khas yang bukan tidak mungkin juga akan disukai dan kemudian ditiru oleh anak-anak.
Selain fenomena tentang lagu pop yang lebih disukai oleh anak-anak tersebut, kami juga menemukan fenomena lain yang juga mengkhawatirkan, yaitu mengenai tayangan film kartun yang mayoritas disukai oleh anak-anak. Film kartun memang tayangan yang sesuai dengan usia anak-anak, tetapi bila kita mengkritisi jalan cerita atau pesan yang dibawa dalam kartun-kartun tersebut sering kali tidak mennuju ke arah “prososial” karena terdapat adegan-adegan yang berbau kekerasan, pornografi, dan nilai-nilai lain yang mungkin dapat mengakibatkan ketidaksepadanan antara nilai-nilai yang didapatkan dari agen sosialisasi lain: keluarga/sekolah, seperti nilai keadilan dan kejujuran yang sering kali diputarbalikkan dalam kartun. Dengan mengingat bahwa seorang anak dapat diibaratkan sebagai kertas polos yang belum dapat menyaring informasi-informasi yang mereka dapatkan, tentu hal ini sangat mengkhawatirkan, karena kemungkinannya amat besar jika seorang anak mencontoh perilaku-perilaku yang tidak baik yang ada dalam tayangan tersebut.
Penyebab dari fenomena-fenomena tersebut, diantaranya adalah keadaan media saat ini yang memang tidak atau amat kurang menyajikan tayangan-tayangan yang baik dan sesuai untuk anak-anak. Jika kita bandingkan dengan tahun-tahun sebelum tahun 2000, pada tahun-tahun tersebut masih cukup banyak tayangan di televisi yang cukup baik dan sesuai untuk dinikmati oleh anak-anak. Selain itu, juga masih terdapat cukup banyak penyanyi cilik berkualitas yang dapat digemari oleh anak-anak.
Penyebab yang kedua adalah, kurangnya kesadaran orang-orang yang tinggal serumah dengan seorang anak untuk mengawasi tayangan atau bahan bacaan yang dinikmati oleh seorang anak. Selain itu, terkadang orang dewasa juga tidak dapat mengontrol diri mereka sendiri ketika menonton televisi, karena sering kali anak-anak menonton tayangan yang tidak diperuntukkan untuk mereka, ketika mereka sedang menonton televisi bersama orang dewasa di rumah mereka. Hal lain yang mungkin juga menjadi penyebab adalah, teman bermain mereka menyukai lagu-lagu atau tayangan yang belum sesuai untuk usia mereka tersebut, karena bisa saja pada awalnya seorang anak tidak menyukai sebuah lagu pop, tapi karena banyak teman-temannya yang lain yang menyukai lagu tersebut, ia pun penasaran dan juga ingin mendengarkan lagu tersebut agar bisa diterima atau sama dengan teman-temannya tersebut.
Sementara itu, dampak yang akan terjadi dari fenomena tersebut adalah berkurangnya masa kanak-kanak yang dialami oleh seorang anak, karena dengan mendapatkan sesuatu yang belum sepantasnya mereka terima sebagai anak-anak menjadikan proses pendewasaan mereka menjadi lebih cepat dan tidak alami. Apabila pendewasaan yang didapatkan dari media massa merupakan suatu proses yang mengarah ke hal-hal positif, hal tersebut tentu tidak menjadi masalah, namun kenyataannya pendewasaan yang mereka dapatkan tersebut cenderung ke arah-arah yang kurang edukatif bahkan mungkin negatif.
Dampak selanjutnya dari fenomena tersebut adalah bahwa informasi-informasi yang mereka dapatkan dari media massa tersebut akan berpengaruh pada perilaku atau tindak-tanduk mereka dalam kehidupan sehari-hari. Sekali lagi, jika informasi tersebut mengarah ke hal-hal positif, hal itu tidak akan menjadi masalah, namun dengan keadaan media massa saat ini yang nampaknya sudah sedikit sekali memperhatikan manfaat atau membawa misi untuk menyampaikan kebaikan (hal-hal positif), kekhawatiran bahwa perilaku negatif lah yang akan muncul dari anak-anak nampaknya tidak terlalu berlebihan, karena pernah kita temukan dalam kehidupan di masyarakat kita, anak laki-laki yang berkelahi atau menganiaya temannya dengan gaya “smackdown”, atau anak-anak yang melakukan hubungan seks karena melihat trend pacaran dan seks bebas di sinetron, film, video klip, atau komik yang mereka tonton/baca.

RELATED POSTS

2 comments

  1. yang ini mendingan jadiin blog pribadi kamu aja din,,,achie kan dah ada multiply sekrang..hhe

    BalasHapus
  2. hmm..

    ya juga yah chan..

    coming soon deh..
    aku resmiin..
    heheh

    dini

    BalasHapus