Harmony Clean Flat Responsive WordPress Blog Theme

Pejabat Minta Naik Gaji (?)

13.08 Dini Khoirinnisa A 2 Comments Category :

Bismillahhirrahmanirrahim

Kata-kata Presiden SBY di sela-sela pidatonya beberapa waktu lalu, menuai banyak tanggapan baik positif maupun negatif. Ada yang bilang bahwa kata-kata “saya sudah 7 tahun tidak naik-naik gaji” (maaf kalau ada kesalahan redaksional) berarti bahwa secara tidak langsung orang No.1 di RI ini minta dinaikkan gajinya. Ada juga yang menganggap bahwa justru presiden ingin memberi contoh pada pejabat dan masyarakat pada umumnya, untuk tetap giat bekerja, walau gaji tidak naik-naik.

Well, saya tidak mau memberi interpretasi maupun tanggapan atas pernyataan presiden itu. Biarlah, pemimpin bangsa kita itu mau bicara apa, saya tidak terlalu peduli dengan lip service seseorang utamanya pemimpin (walau lip service memang sangat penting bagi pemimpin, misal Obama), yang penting action nya saja deh Pak!

Sesaat sebelum saya menulis mengenai hal ini, saya sedang menonton sebuah berita pukul 6.30 WIB, di salah satu saluran televisi swasta nasional. Diantaranya ada berita perkumpulan para bupati se-Jawa Barat yang minta dinaikkan gajinya, karena selama ini gaji bupati dianggap kurang layak yakni sekitar 5.6 juta rupiah. Saya yang lagi seret uang karena akhir bulan, langsung galau mendengar berita itu. Aduh, kenapa kok kayak ga tau diri begini pejabat..

Pikiran saya langsung loncat ke masa-masa pemilihan umum, baik pilkada, pilgub, pemilihan legislatif, dsb. Inget fenomena apa yang menarik dari berbagai ajang pemilihan menjadi pejabat ini? Aksi black campaign, hutang sana-sini untuk membiayai kampanye, sogok menyogok, dan segala usaha lainnya supaya sukses terpilih jadi pejabat. Nah, tahu juga kan fenomena menarik para calon-calon pejabat yang kalah dari pemilihan? Ada yang bunuh diri, ada yang langsung sakit, ada yang dinyatakan gila, stress, dsb dengan berbagai alasan, malu karena kalah atau karena hutang yang menumpuk. Yang menang pun, bukan berarti fine-fine aja. Karena untuk menang ini mereka mengeluarkan semua tabungannya atau bahkan hutang sana-sini, jadilah mereka mencari celah sana-sini supaya tabungannya kembali atau agar bisa melunasi hutang-hutangnya tersebut.

Oke, mungkin ini semua ga lebih dari pandangan subjektif saya, tapi ga bisa kita pungkiri bahwa fenomena ini memang terjadi di masyarakat Indonesia. Tapi tentu, ga semua pejabat seperti yang saya sebut di atas. Insya Allah masih banyak yang jujur dan memang murni mau mengabdi pada Negara. Tapi.. coba deh dipikir, kira-kira kenapa sih orang mau susah-susah kampanye dan hutang sana-sini untuk jadi pejabat? Kenapa? Kenapa? Apakah karena kekuasaan? Ya, bisa jadi.. tapi intinya, dengan pikiran sebagian besar masyarakat Indonesia yang apa-apa maunya serba cepat dan mudah (instan), menjadi pejabat dianggap sebagai salah satu sarana cepat untuk menjadi orang kaya. Menjadi penguasa berarti menguasai sumber daya, termasuk uang. Jangan salahkan masyarakat jika berpikir demikian, karena yang masyarakat lihat, pejabat itu ya, bajunya bagus, dapet rumah mewah, dapet mobil, tunjangan dijamin, dan segala kenyamanan hidup lainnya.

Nah, di sinilah imajinasi brutal saya bekerja. Kalau saya punya kesempatan untuk menentukan kebijakan gaji pegawai atau pejabat Negara. Saya bikin deh tuh, gaji yang hampir sama atau bahkan sama dengan rata-rata pendapatan masyarakatnya. Kalau pendapatan per kapita masyarakat Indonesia cuma 220 ribu per bulan, yaudah makan tuh gaji 220 ribu juga atau boleh lah 300 ribu per bulan buat pejabatnya. Looh, nanti ga ada yang mau jadi pejabat dong? Haha, ya bagus, memang itu yang saya inginkan, biar ga terlalu banyak orang yang berkompetisi mati-matian hutang sana-sini akhirnya kalau kalah jadi bunuh diri buat jadi pejabat. Biarkan, orang-orang berhati murni dan jujur yang memang mau jadi pejabat yang memang bisa jadi pejabat, orang-orang yang memang mau melayani. Apa susahnya? Toh anda dapet jas-jas bagus untuk rapat, anda dapet mobil untuk mobilitas ke sana-sini, anda dapet rumah untuk tidur (tapi untuk fasilitas-fasilitas ini, kalau saya yang nentuin juga, udah pasti harus yang harganya standar-standar aja, ga boleh mewah-mewah, yang penting masih layak dipakai). Lalu, bagaimana masalah kesehatan dan pendidikan? Kesehatan tinggal dijamin asuransi, pendidikan tinggal dikasih beasiswa untuk anak-anak pejabat dan pegawai pemerintah lainnya. Bisa kan? Bisa kan? Sosialis banget ya saya? Sabodo teuing :P
Kalau ada lagi yang nanya, ga adil banget dong, kan pejabat kerjanya capek, kesana-kesini ngurus Negara, masa gajinya sama kayak tukang becak? For Your Information, profesi itu adanya di garis horizontal dalam masyarakat, profesi hanya mendiferensiasi masyarakat, bukan menstratifikasi masyarakat karena semua bidang profesi dihargai sebagai sebuah keahlian yang unik dan terspesifikasi. Apakah kita bisa bilang bahwa jadi dokter lebih capek daripada jadi kuli bangunan? Apakah pendapatan per bulan PNS lebih besar dari juragan angkot? Jadi, ga masalah dong gaji pejabat kita bikin jadi kecil aja, sesuai sama pendapatan rata-rata masyarakat.

Nah, jadi, pikran brutal saya ini berharap, para pejabat ini bisa lebih bekerja keras dalam mensejahterkan masyarakatnya, karena semakin sejahtera dan pendapatan masarakat naik, maka gaji pejabat akan naik juga, hehehehe. Tapi tetep deh, sebagai motivasi, ada insentif untuk para pejabat yang berprestasi 

Sekian dulu imajinasi brutal saya, dukung saya ya, dini for depok 2030, hehehehe.

RELATED POSTS

2 comments

  1. cie yg lg seret keuangannya.. (hahaha, ngecengin yg kebangetan)..

    mau bayar brp biar disupport 2030 Din? bljr dr stratgei pejabat donk, makanya kenapa pejabat pade minta gaji, biar support ke mreka bertahan ditaon2 mendatang (argumentasi anarki :D)

    BalasHapus