Harmony Clean Flat Responsive WordPress Blog Theme

Oleh-oleh Sosiologis dari Kuningan dan Ciamis Jawa Barat

11.28 Dini Khoirinnisa A 0 Comments Category :

Bismillahirrahmanirrahim..
Di postingan kali ini saya akan cerita tentang hal-hal menarik dan mungkin sosiologis dari perjalanan saya selama 5 hari di daerah-daerah sekitar Kuningan dan Ciamis. Sebenarnya saya kesana dalam rangka silaturahmi aja sama keluarga-keluarga di sana, tapi ternyata banyak sekali hal-hal menarik yang bisa diceritakan. Atau lebih tepatnya menjadi terlihat menarik karena 3 tahun belakangan saya kuliah di jurusan sosiologi yang membuat saya lebih peka terhadap fenomena-fenomena yang ada dalam masyarakat, hihiihi 
Hal pertama adalah mengenai posisi perempuan di daerah tersebut. Perempuan di desa itu bener-bener deh peran gandanya, selain bertanggungjawab mengurusi ranah domestik alias pekerjaan-pekerjaan rumah tangga seperti memasak, mencuci, membersihkan rumah, dsb, hampir bisa dipastikan perempuan disana itu juga bekerja di ranah publik yang dimaksudkan untuk menghasilkan uang atau benda ekonomi lainnya, misalnya ke sawah dan berkebun untuk menghasilkan padi dan tanaman lainnya baik untuk dimakan sendiri maupun dijual, mengurusi hewan ternak, dsb. Semua perempuan desa hampir dapat dipastikan pernah merasakan kegiatan ‘mencari uang dan makan’ walau tanggung jawab di rumah pun sudah pasti ada. Hal ini berbeda dengan di daerah perkotaan yang mana masih bisa kita temukan perempuan yang hanya bekerja di ranah domestik saja, tidak memiliki beban untuk melakukan pekerjaan ranah publik untuk berkontribusi pada penghasilan keluarga. Dengan kata lain, perempuan di desa tidak memiliki pilihan lain, jika memang ia tidak memiliki pendidikan atau keterampilan untuk bekerja di ranah publik lain maka ketika ia menjadi ibu rumah tangga ia pasti juga harus mau bekerja di sawah dan kebun untuk meningkatkan perekonomian keluarga.
Tapi ada keunikan lain juga sih, kalau saya dilihat di desa, laki-lakinya itu juga banyak yang mau mengerjakan pekerjaan domestik terutama membantu dalam membersihkan rumah dan menjaga anak-anak. Untuk laki-laki yang seperti ini dalam rumahnya berarti perempuannya bisa mendapatkan posisi yang lebih adil..hehehe, iyalah, perempuan aja mau kerja di rumah dan di sawah juga, laki-laki juga harusnya mau dong bantuin kerjaan domestiknya perempuan.. 
Terus ya.. saya salut banget sama orang desa karena mereka itu rajin-rajin banget.. pagi-pagi pasti mereka sudah bangun, setiap hari pasti selalu ada aktivitas atau pekerjaan yang bisa dilakukan. Ga ada tuh leyeh-leyeh di kamar atau nonton tv kecuali waktu istirahat atau lagi sakit.. keren deh, jadi ga bingung kalau lagi di desa karena kita bisa ngikutin aktivitas mereka yang seabrek itu.. hehehe
Hal kedua adalah mengenai kekeluargaan di desa.. aiiih.. luar biasa banget deh, setiap saya ngobrol atau dengerin pembicaraan orang tua saya dengan orang lain di sana, pasti mereka bisa kasih kabar tentang saudara atau tetangga yang padahal tinggalnya jauh banget dari rumah mereka atau yang sebenarnya bukan saudara mereka asalkan tinggal dalam satu kampung, pasti mereka saling kenal dan tau kabarnya masing-masing. Jadi, orang desa itu tau, si anu yang tinggalnya di daerah sebelah anu, baru nikah sama anu yang tinggalnya di anu, sekarang udah punya anak sejumlah anu, namanya anu, neneknya adalah si anu, yang lagi sakit anu.. and so on another anu..
Pokoknya mereka know and care each other.. pantes aja mereka dengan mudah mau saling membantu dan kerjasama satu sama lain tanpa imbalan.. ya, itulah penggambaran dari solidaritas mekanik yang ada di desa seperti yang dibilang Om Durkheim, solidaritas mereka sifatnya abadi, tanpa kontrak dan imbal balik.. berbeda dengan masyarakat perkotaan dimana mereka bisa berintegrasi karena berdasarkan perbedaan-perbedaan yang mereka miliki, mereka saling membutuhkan untuk memenuhi kebutuhan mereka satu sama lain, berdasarkan kontrak dan imbal balik.. semu..
to be continued…

RELATED POSTS

0 comments