Harmony Clean Flat Responsive WordPress Blog Theme

Ketika Telah Menikah

21.01 Dini Khoirinnisa A 3 Comments Category : , ,


Ketika telah menikah, tentu bukan berarti perjuangan telah selesai. 
Justru dengan menikah, bertambahlah hal-hal yang harus diperjuangkan, diusahakan, namun kali ini bersama seseorang yang berjanji akan siap menemani baik ketika sulit maupun senang.

Ketika telah menikah, dituntut untuk tak hanya selalu menuntut. Tapi mau menerima, mengalah, dan menjadi jembatan yang menyampaikan pada gerakan kebaikan bagi satu sama lain.

Terkadang ketika telah menikah, kita selalu lebih mudah melihat kekurangan-kekurangan pasangan. Padahal tentu kita sendiri masih banyak kekurangan.

Sebagai istri dan pribadi yang memang lebih “blak-blakan” dalam berbicara, nampaknya saya lebih sering mengutarakan protes-protes kecil saya terhadap apa yang saya kurang sukai dari suami saya. Namun sebaliknya, sangat jarang suami saya berlaku demikian kepada saya. Padahal sudah sangat tentu, kekurangan saya sangatlah banyak sekali.

Bahkan pernah suatu hari akhirnya saya bertanya “Hal apa yang paling kamu gak suka dari aku?”
Dia menjawab “Gak ada. Aku suka semuanya…”

Jawaban itu muncul mungkin karena suami saya tidak seterbuka saya dalam menyampaikan sebuah hal. Atau memang suami saya pelan-pelan ingin mengajarkan saya untuk bisa berkompromi terhadap kekurangan yang pasti dimiliki oleh setiap orang. That’s fine, I am still loving you. But let’s fix it together. Mungkin kira-kira seperti itu jika ia akan bicara.

Sering kali ketika telah menikah, seorang perempuan banyak berekspektasi bahwa hidupnya akan berubah drastis. Memiliki pengharapan tinggi bahwa ia akan diperlakukan layaknya seorang permaisuri. Istimewa dan diistimewakan. Dunia hanya miliknya dengan sang suami yang selalu siap siaga menjaganya. Padahal setelah menikah, justru ia harus siap membagi dunianya pada lebih banyak orang. Pada orang-orang yang dekat dengan suami dan keluarga suaminya. Lebih banyak yang harus diperhatikan, diurusi, didengar ceritanya, dijaga silaturahimnya, diberi hadiah, dibantu, dan lain sebagainya.

Suamimu bukanlah hanya milikmu. Ia adalah hamba-Nya yang Allah takdirkan untuk bisa hidup dan beribadah bersamamu. Bersamamu, hingga di Surganya kelak. Semoga.

Selamat berjuang kembali di tempat yang baru, suamiku.

Remember what Maher Zain said in one of my fav song “Shouldn’t never feel afraid of anything as long as we follow HIS guidance

Allah yang akan menjagamu ya, sayang. Insya Allah akan segera ada waktunya untuk kita bisa lebih banyak bersama :)

See you soon, and enjoy Kendari :)


RELATED POSTS

3 comments

  1. Aahh Mba Dini seorang blogger toh, selain businesswoman, hehe. Ini ceritanya LDM kah mba? Mau gak mau harus terima ya mba, demi kebaikan bersama :)

    BalasHapus
  2. hehe iya mbaa, tapi mood2an banget jadi jarang nulisnya hehe..

    iya LDM, hukss.. hehe.. iya mba demi kebaikan bersama, ini masih belajar dan cari formasi terbaik :)

    BalasHapus
  3. Semangat ya sayangku, maafin kalo suamimu belum menjadi suami yang baik, buat as always, let's fix it together, with our love and HIS guidance.
    Keep praying and keep strong.

    I love you so :')

    BalasHapus