Harmony Clean Flat Responsive WordPress Blog Theme

Berdua Saja

20.53 Dini Khoirinnisa A 2 Comments Category :

Tidak terasa sudah 2 bulan saya tinggal di Kendari untuk menemani suami saya yang memang bekerja di sini. Besok siang insya Allah saya ditemani suami sudah harus kembali ke Depok karena usia kandungan saya yang sudah makin membesar yakni menginjak usia 7 bulan (mengingat saya ingin melahirkan di Depok saja agar bisa lebih mudah karena bisa ditemani dengan keluarga besar). Sebenarnya kalau saya baca-baca di internet, sampai usia kehamilan sekitar 8 bulan, beberapa maskapai masih membolehkan ibu hamil untuk melakukan penerbangan. Namun saya tidak mau ambil resiko, karena pada usia kandungan 7 bulan, bayi sudah mungkin untuk lahir. Saya tidak ingin pengalaman melahirkan saya yang pertama ada di pesawat, hehe..

Sejak kemarin sampai hari ini, saya mencicil untuk membereskan barang-barang yang akan saya bawa kembali ke Depok dan juga membereskan dapur serta barang-barang lain agar suami saya nanti mudah jika ingin menggunakannya. Walau saya agak ragu sih dia bakal menggunakan alat-alat masak itu, hehe, tapi at least sudah rapi dan bersih jika (ada keajaiban di suatu hari) dia mau memasak. Ngomong-ngomong rapi sebenarnya itu standar saya ya asal terlihat bersih, tidak bau, dan tidak terlihat berantakan. Lain lagi dengan suami saya yang standar rapinya jauhhhh lebih di atas saya, yakni biasanya dengan tambahan harus wangi dan tertata dengan baik hehehe.

Dan saat saya beres-beres itulah, tiba-tiba (sebenernya sudah saya prediksi sih) saya merasa sedih dan tidak bisa menahan tangis. Bahkan saat mengetik sekarang ini saya juga sambil menangis, hehe :)
Saya sedih karena sebentar lagi harus kembali "berpisah" dengan suami saya...
Bisa menemani suami saya setiap hari adalah hal yang saya impikan sejak awal menikah. Hal ini karena sejak bulan pertama pernikahan, kami sudah menjalankan Long Distance Marriage. Saya terpaksa tinggal di Depok karena masih bekerja kantoran dan mengurus bisnis sementara suami saya terpaksa juga harus mengikuti kehendak kantornya untuk ditempatkan di Makassar (lalu kemudian dipindahkan ke Kendari) karena terikat dengan kontrak. Selama 1 tahun lebih kami menjalani LDM dengan pola saya pernah menyusul 2 kali ke Makassar dan suami saya pulang setiap 2-3 bulan sekali ke Depok. Kondisi bisnis saya yang masih membutuhkan perhatian teknis setiap harinya saat itu, membuat saya tidak bisa dengan mudah mengambil keputusan untuk tinggal bersama suami saya di luar kota.
Dengan kondisi seperti itu, praktis "pengalaman" hidup bersama kami terasa masih sangat sedikit. Paling lama kami tinggal bersama hanya sekitar 1-2 minggu saat suami saya bisa mengambil cuti panjang. Sering juga suami saya pulang ke Depok hanya dengan ritme Jumat malam sampai Jakarta, lalu Minggu siangnya sudah harus ke bandara lagi.

Saat di Kendari, walau kadang sepi dan merasa tidak bisa kemana-mana karena memang kotanya cukup sepi dan akses kendaraan umum agak jauh dari tempat tinggal saya, tapi saya sangat bahagia dan menikmati kebersamaan saya dengan suami.
Sulit sekali untuk dideskripsikan bagaimana bahagianya bisa membuat sarapan untuk suami sebelum ia berangkat kerja, cape-cape mengusahakan ruangan yang bersih sebelum suami pulang, deg-degan mencoba berbagai resep masakan agar suami saya suka, mencuci piring dan gelas yang bekas ia pakai, berdandan sebelum suami pulang, bahkan sesederhana menjemur handuknya, memeluknya saat tidur, menemani dia nonton Running Man, semuanya.. semua hal yang mungkin dianggap sederhana bagi istri-istri lain, menjadi sangat istimewa bagi saya..

Dan, setelah pulang ke Depok ini, kembali saya (ya tentunya kami), harus bersabar dan menahan rasa untuk membayangkan yang tidak perlu dibayangkan. Membayangkan suami saya sendirian di kosannya, tidak tau mau makan malam apa karena mager masak atau beli di luar, menyapu kamar dan mencuci piring gelas bekas pakainya. Saya sedih sekali mengngat dia harus melakukan hal itu lagi sendirian, walau mungkin sebenarnya dia juga merasa baik-baik saja :)


Pada akhirnya, saya tahu tidak boleh bersedih. Karena toh "berpisah" kali ini untuk menyiapkan kebahagiaan yang lain, yakni calon buah hati pertama kami :) bersyukur tentunya yang seharusnyalah saya lakukan :)


Jadi...
Terimakasih Kendari, sudah memberi kesempatan bagi saya untuk mengetahui rasanya menjadi istri yang "sebenarnya" :) membuat saya tahu betapa perhatiannya suami saya kepada saya :) soal yang terakhir ini, sering kali saya terharu karena dia begitu memperhatikan kondisi saya setiap harinya. Dia bahkan bisa sensitif merasakan hal apa yang membuat saya bete atau kesal. Sesederhana kesel karena kelewatan abang roti pikul tapi kemudian dia kembali ke rumah sebentar untuk membelikan saya roti (ya karena dompet sama chargernya ketinggalan juga sih :p haha).
Tapi intinya, banyak hal yang saya syukuri. Banyak hal yang menepis kecemasan-kecemasan tidak penting yang dulu suka muncul.. :)





Terimakasih Kendari, karena sudah mengizinkan keluarga kecil kami bertumbuh lebih tinggi..
Terimakasih karena telah membuat kami bahagia walau "berdua saja" di Kendari :)




RELATED POSTS

2 comments

  1. Mbak Din.... <3 selamat menyambut kehadiran dekbay.... Semoga lancar semuanya yah kaaa.... Sehat2 terus :*

    BalasHapus
  2. Aamiin makasih dear ayaa 😘

    BalasHapus