Harmony Clean Flat Responsive WordPress Blog Theme

Mengurus Rumah Tangga

18.31 Dini Khoirinnisa A 0 Comments Category :

Well, mungkin terdengar terlambat kalau saya baru berkeluh kesah menuliskan hal ini karena saya sudah menjadi istri sejak 2.5 tahun lalu dan menjadi ibu sejak 1 tahun lalu. Tp kenyataannya saya memang baru sekarang merasakan cukup lelahnya mengurus rumah tangga.
Sejak awal menikah saya sudah LDR dgn suami, baru akhir bulan kemarin dia pindah ke Depok dan baru 1 minggu lalu kami pindah ke rumah baru yg hanya berjarak sekitar 1.5km dr rumah orang tua saya tempat saya dulu tinggal.
Selama menjalani LDR dan saat saya sudah punya anak, hampir semua kebutuhan hidup saya sehari-hari disediakan oleh orang tua saya terutama Mamah. Mulai dari memasak, beres-beres rumah, membantu mengurus Fatih anak saya. Saat bersama mamah rutinitas saya sehari-hari biasanya hanya sekitar membersihkan kamar, mencuci baju saya itupun tdk setiap hari, belanja bahan makanan, menyusui fatih, dan bekerja mengurus usaha saya yang lokasinya ada di dekat rumah. Pekerjaan merawat Fatih seperti menyuapi, memandikan, mengajaknya bermain, dll, dilakukan bergantian oleh saya dan Mamah yg kadang dibantu juga oleh Bapak dan Adik2 saya.
Dan sekarang saat sudah pindah tinggal terpisah dari orang tua, saya merasakan kelelahan di tiap harinya. Saya merasa terlalu banyak pekerjaan rumah yg harus saya handle. Sebenarnya mungkin saya bisa2 saja tp yg sering membuat lelah fisik dan emosi adalah karena Fatih sangat sulit lepas dari saya. Melakukan pekerjaan apapun di rumah maka Fatih akan membututi saya, menarik2 baju saya, yang akhirnya saya tidak tega jd lah saya bekerja sambil menggendongnya supaya ia tidak selalu merengek dan menangis.
Suami saya sebenarnya sudah cukup membantu tp ntah kadang Fatih tidak mau anteng bermain kecuali saya yg menemaninya.
Satu sisi saya merasa kecewa dgn diri sendiri yang manja ini. Tp satu sisi saya masih mempertanyakan haruskah saya selelah ini dan mengerjakan semuanya?
Dari saat saya beranjak dewasa, ibu saya memang tidak mendidik saya untuk benar2 mengurus rumah tangga. Saya ditugasi untuk belajar dengan baik di sekolah dan mengejar semua yg saya inginkan. Barangkali karena sebagai anak pertama sayalah yang memang akan menjadi tulang punggung ekonomi keluarga saya.

Kini, setiap harinya saat punggung saya terasa sakit atau tangan dan kaki terasa keram, saya selalu memberi sugesti positif pada diri saya bahwa insya Allah ada balasan surga dari semua lelah ini. Saya mencoba ikhlas. Lebih tepatnya saya sangat ikhlas. Saya sadar inilah kodrat perempuan. Hanya cukup sulit bagi orang yg agak temperamen seperti saya untuk tidak menggerutu, berteriak kecil, menangis, dll saat lelah dan ada yg tidak beres. Semoga suami saya mau selalu memaafkan saya dan membantu saya utk bs lebih baik dan sabar.

Kadang saya membayangkan perempuan2 lain yg berada dalam kondisi yg buruk dalam hidupnya. Misalnya yg sudah memiliki banyak anak, punya masalah ekonomi keluarga, tidak punya penghasilan sendiri sehingga tdk bs punya budget utk menyenangkan dirinya, suami tidak mau membantu pekerjaan rumah dan bahkan melakukan kdrt. Ya Allah. Semoga tdk ada perempuan seperti itu di dunia ini. Tak bs saya bayangkan tangis yg dia selalu keluarkan di tiap malamnya....

Well, saya sadar ini baru 1 minggu pertama sejak saya hidup terpisah dari orang tua. Saya hanya kaget. Tp saya pasti bs menghandlenya tdk lama lagi. Pun tdk insya Allah msh ada jalan lain misalnya menghemat uang jajan saya utk misal membayar jasa asisten rumah tangga hehehe.


Bismillah.
Semangat utk semua ibu pengurus rumah tangga dimanapun berada.
Tetap waras dan bahagia. Karena jelas kita pantas untuk bahagia :))


***
Kurang lebih 1 jam setelah saya selesai menulis ini, Fatih terjatuh dari tempat tidur. Bibirnya pecah mengeluarkan darah dan hidungnya memar. Saya tertegun, shock, dan menyesal karena lalai menjaganya...


Oh Ibu. Sungguh mulia pekerjaanmu. Kuatlah selalu ibu..

RELATED POSTS

0 comments